Harvard Tolak Tekanan Trump: Refused to Bend to Trump's Demands

Table of Contents

Presiden AS, Donald Trump menghapus hak Universitas Harvard untuk memasukkan siswa internasional. Keputusan ini merupakan akibat langsung dari tuduhan Trump bahwa Harvard adalah perguruan tinggi berorientasi antisemit yang dia kemukakan beberapa minggu terakhir.

Khususnya, setelah beberapa unjuk rasa pendukung Palestina yang dilancarkan oleh mahasiswa Harvard di awal tahun ini. Selanjutnya, pada tanggal 11 April, Trump berencana untuk campur tangan dalam aspek pembelajaran serta pengaturan administratif Harvard.

Pemerintah mengancam untuk membekukan dana sebesar 2,2 miliar dolar, melanjuti pembekuan dana sebanyak 1 miliar dolar sebelumnya, dan berencana melakukan penyelidikan atas aktivitas Harvard. Ancaman ini mencakup dampak pada masa depan studi mahasiswa internasional dan potensi pencabutan status kebebasan pajak universitas tersebut, demikian pernyataan Profesor President Universitas Harvard, Alan M. Garber, dalam sebuah pengumuman resmi yang diposting di laman web Harvard, seperti dilansir Jumat (23/5).

Untuk Garber, ancaman dari pihak berwenang tersebut mencemaskan bagi penelitian kedokteran dan teknologi. Sebenarnya, jenis riset seperti ini memiliki potensi untuk menolong jiwa masyarakat Amerika Serikat sendiri.

"Oleh karena itu, peran AS sebagai pemuncak inovasi di tingkat dunia pun ikut terganggu," ungkap Garber.

Garber pun menolak permintaan pemerintah ini. Baginya, pemerintah berupaya mengambil kontrol penuh universitas swasta ini.

Hal itu bertentangan dengan prinsip pendidikan Harvard serta Amerika Serikat yang sudah menjadi patokan global.

"Kami percaya bahwa perguruan tinggi dan universitas di seluruh dunia dapat terus melaksanakan tanggung jawab dan martabat mereka, sekaligus mengejar fungsi penting dalam masyarakat tanpa intervensi dari pemerintah," ucap Garber.

Itulah yang terus dijaga oleh Harvard. Inilah keistimewaan Harvard.

"Mempertahankan hak untuk berkata apa saja, memimpin di bidang riset, sampai cara kami dapat terus kemajuan melewati berbagai pembatas yang menghalangi negara dan masyarakat kami merencanakan masa depan," demikian GARBER menambahkan.

Tolak Klaim Anti-Semit, Grup Membentuk Satuan Tugas Tangani Penyebaran Anti-Semit dan Anti-Palestina

Harvard dengan tegas menyangkal tuduhan bahwa pihaknya mendapatkan lingkungan anti-Semit di kampus mereka. Sebagaimana dikutip dari situs web resminya, universitas tersebut sudah membentuk sejumlah tim kerja untuk menghadapi masalah anti-Semitisme itu.

"Kami akan mengeluarkan laporan dari tim kerja Lawan Anti-Semit dan Anti-Israel serta tim kerja Anti-Muslim, Anti-Arab, dan Anti-Palestina. Saya mendirikan kelompok ini tahun lalu untuk menangani masalah diskriminasi dalam masyarakat kita," jelas Garber.

Temuan tim tersebut sungguh mengejutkan. Namun, di dalam laporannya sudah terdapat beberapa tindakan pencegahan yang dirancang untuk mengatasi berbagai permasalahan seperti prasangka, ketidaksukaan terhadap orang lain, dan ekstremisme.

"Kami yakin tindakan ini akan menyingkirkan kejahatan dari kampus kita," kata Garber.

Trump Meminta Harvard Tak Menerima Mahasiswa Asing

Sejak memimpin lagi di awal tahun 2025, Trump telah bersitegang dengan universitas yang mencetak 162 juara Nobel tersebut. Konflik muncul karena Harvard enggan mentaati pengawasan pemerintah mengenai proses seleksi masuk serta merekrut siswa baru.

Pengumuman tentang pelarangan penerimaan mahasiswa internasional disampaikan oleh Menteri Kehakiman Dalam Negeri, Kristi Noem.

"Mulai sekarang, sertifikasi Program Mahasiswa dan Pengunjung Pertukaran (SEVIS) di Universitas Harvard telah dicabut," ujar Noem menurut kutipan Reuters.

Berdasarkan informasi dari Universitas Harvard, terdapat 27% mahasiswa, yang setara dengan kurang lebih 6.800 orang, datang dari negara lain untuk menuntut ilmu di sana. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan untuk masa studi tahun akademik 2024-2025.



Posting Komentar